Animal Welfare (Kesejahteraan Hewan)

Surabaya, membacabangsa.co.id - Di bumi kita ini, terdapat banyak sekali jenis makhluk hidup, dan salah satunya adalah hewan. Ada begitu banyak jenis hewan yang bisa kita jumpai, mulai dari hewan liar yang hanya dapat dijumpai di hutan, hewan ternak yang dapat dijumpai di peternakan, baik peternakan besar maupun peternakan kecil di tengah masyarakat, hingga hewan peliharaaan atau hewan kesayangan dan hewan-hewan lain yang hidup berdampingan di sekitar manusia. Nyatanya, keberadaan hewan tidak bisa dilepaskan dengan kehidupan manusia, karena hewan memiliki begitu banyak maanfaat yang dapat meningkatkan kesejahteraan hidup manusia, dimana diantaranya adalah sebagai sumber bahan pangan, sebagai sumber energi, dan juga sebagai sarana hobi.


Walaupun keberadaan hewan memberikan manfaat yang begitu besar bagi kesejahteraan hidup manusia, ironisnya masih banyak orang di berbagai belahan dunia yang memperlakukan hewan dengan semena-mena. Penyiksaan terhadap hewan berkedok agama dan budaya masih sering terjadi. 


"Hal ini dapat kita jumpai pada tradisi memutar anjing seperti gasing di atas sungai di masyarakat Bulgaria di bagian tenggara, yang diyakini untuk menangkal penyakit rabies. Kemudian ada festival “Pigs of God” di Taiwan, dengan melakukan penggemukan babi secara paksa dengan pemaksaan makan secara terus menerus, untuk kemudian disembelih di depan umum. 


Pertunjukan topeng monyet sebagai sarana pencari nafkah, yang menimbulkan kontroversi di tengah masyarakat Indonesia. Dan juga tradisi adu bagong di Jawa Barat, yang mempertontonkan pertarungan seekor babi hutan dengan anjing. 


"Selain penyiksaan berkedok agama dan budaya, terdapat penyiksaan lain yang dilakukan dengan tujuan bersenang-senang, seperti memukuli dan membakar anjing tanpa alasan.
Sepanjang tahun 2017-2018, kisah penyiksaan hewan ikut meramaikan jejaring sosial Indonesia, mulai dari seekor rusa yang diberi alkohol oleh pengunjung Taman safari Indonesia, seekor anjing yang disiksa pemiliknya hingga mati, hingga kuda kelelahan yang dicambuk oleh pemiliknya. Selain itu, kita bisa menemukan video atau foto seseorang tengah meneyiksaan hewan perliharaaannya, dan mereka memposting tindakan mereka tersebut tanpa rasa bersalah. Pada tahun 2019, terdapat sebuah kasus penyiksaan hewan yang begitu viral yang terjadi di Pekalongan, yaitu tersebarnya video kucing yang diseret di jalanan dengan menggunakan sepeda motor.  


Setiap tahunnya masih sering kita jumpai di tengah masyarakat di sekitar tempat tinggal kita perlakuan tidak baik yang diterima oleh hewan yang akan diqurbankan, seperti mengikat mereka di tempat terbuka dengan memberi mereka makan dan minuum seadanya, pelakuan penumbangan secara paksa, dan penyembelihan dengan pisau yang kurang tajam, sehingga dapat menimbulkan rasa sakit bagi hewan tersebut.


Kekerasan pada hewan terus saja terjadi walaupun terdapat peraturan tentang kesejahteraan hewan (Animal Welfare). Menurut Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2009, Animal Welfare adalah segala urusan yang berhubungan dengan keadaan fisik dan mental hewan menurut ukuran perilaku alami hewan yang perlu diterapkan dan ditegakkan untuk melindungi hewan dari perlakuan setiap orang yang tidak layak terhadap hewan yang dimanfaatkan manusia. Setiap manusia bertanggung jawab terhadap masing-masing binatang yang dipelihara atau bebas di alam. 


Menurut “Doris Lin”, 2016 (Animal Rights Expert) ada sebelas kelompok isu penting utama terkait sudut pandang cara perlindungan terhadap hak-hak hewan yaitu pertumbuhan populasi manusia yang tidak terkendali (human overpopulation), status properti hewan (property status of animals), vegetarianisme (veganism), intensifikasi produksi (factory farming), ikan dan penangkapan ikan (fish and fishing), daging yang manusiawi (humane meat), eksperimen menggunakan hewan (animal experimentation), hewan kesayangan (companion animal), perburuan hewan (hunting), pemanfaatan bulu binatang (fur), pemanfaatan hewan untuk hiburan (animal in entertaiment).
Hak asasi hewan sering kali diabaikan, terutama yang berhubungan terhadap perlindungan binatang dari perlakuan tidak layak yang dimanfaatkan manusia. 


Terdapat lima prinsip kebebasan hewan sebagai berikut:
Freedom from hunger and thirst (Bebas dari rasa lapar dan haus)
Bebas dari rasa lapar dan haus dapat dilakukan dengan pemberian pakan dan minum yang ad libitum dan kemudahan hewan dalam mengakses pakan dan minum kapanpun dikehendaki.


Freedom from discomfort (Bebas dari rasa tidak nyaman)
Bebas dari rasa tidak nyaman dapat dilakukan dengan memperhatikan kebutuhan hewan terhadap tempat tinggal yang sesuai atau pemberian naungan atau sarang yang sesuai.


Freedom from pain, injury and disease (Bebas dari rasa sakit, luka dan penyakit)
Bebas dari rasa sakit, luka dan penyakit dapat dilakukan dengan melakukan tindakan pencegahan, dan jika telah tekena maka harus mendapatkan diagnosis dan terapi yang tepat.


Freedom from fear and distress (Bebas dari rasa takut dan stres)
Bebas dari rasa takut dan stress dapat dilakukan dengan menghindari posedur atau teknik yang menyebabkan rasa takut dan stress pada hewan dan memberikan masa transisi dan adaptasi sebelum penelitian berlangsung (adaptasi terhadap lingkungan baru, petugas kandang baru, pakan baru, atau prosedur baru.


Freedom to express normal behaviour (Bebas untuk mengekspesikan perilaku alamiah) Bebas mengekspresikan tingkah laku alamiah dapat diupayakan melalui penyediaan luasan kandang yang cukup, kualitas kandang yang baik, dan teman dari hewan sejenis dengan memperhatikan sosialisasi, tingkah laku spesifik (misal cara mengambil makan), serta program pengayaan.


Sejauh mana hukum melindungi kesejahteraaan hewan di Indonesia? Menurut R. Seosilo, dalam bukunya Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) serta komentar-komentarnya lengkap pasal demi pasal, menjelaskan yang termasuk tindakan kejahatan penganiayaan pada hewan seperti tindakan yang sengaja menyakiti, melukai, atau merusak kesehatan hewan, tidak memberi makan atau minum dan tindakan yang keluar dari batas kelaziman, dilansir dari kumparan.com.


Lebih lanjut pada Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Pasal 302 yang berbunyi :
Diancam dengan pidana penjara paling lama tiga bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah karena melakukan penganiayaan ringan terhadap hewan:
Barang siapa tanpa tujuan yang patut atau secara melampaui batas, dengan sengaja menyakiti atau melukai hewan atau merugikan kesehatannya;
Barang siapa tanpa tujuan yang patut atau dengan melampaui batas yang diperlukan untuk mencapai tujuan itu, dengan sengaja tidak memberi makanan yang diperlukan untuk hidup kepada hewan, yang seluruhnya atau sebagian menjadi kepunyaannya dan ada di bawah pengawasannya, atau kepada hewan yang wajib dipeliharanya.


Jika perbuatan itu mengakibatkan sakit lebih dari seminggu, atau cacat atau menderita luka-luka berat lainnya, atau mati, yang bersalah diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan, atau pidana denda paling banyak tiga ratus rupiah, karena penganiayaan hewan Dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan, Pasal 66 berbunyi:
Untuk kepentingan kesejahteraan hewan dilakukan tindakan yang berkaitan dengan penangkapan dan penanganan; penempatan dan pengandangan; pemeliharaan dan perawatan; pengangkutan; pemotongan dan pembunuhan; serta perlakuan dan pengayoman yang wajar terhadap hewan.


Ketentuan mengenai kesejahteraan hewan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan secara manusiawi yang meliputi: penangkapan dan penanganan satwa dari habitatnya harus sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang konservasi; penempatan dan pengandangan dilakukan dengan sebaik-baiknya sehingga memungkinkan hewan dapat mengekspresikan perilaku alaminya; pemeliharaan, pengamanan, perawatan, dan pengayoman hewan dilakukan dengan sebaik-baiknya sehingga hewan bebas dari rasa lapar dan haus, rasa sakit, penganiayaan dan penyalahgunaan, serta rasa takut dan tertekan; pengangkutan hewan dilakukan dengan sebaik-baiknya sehingga hewan bebas dari rasa takut dan tertekan serta bebas dari penganiayaan; penggunaan dan pemanfaatan hewan dilakukan dengan sebaik-baiknya sehingga hewan bebas dari penganiayaan dan penyalahgunaan; pemotongan dan pembunuhan hewan dilakukan dengan sebaik-baiknya sehingga hewan bebas dari rasa sakit, rasa takut dan tertekan, penganiayaan, dan penyalahgunaan; dan perlakuan terhadap hewan harus dihindari dari tindakan penganiayaan dan penyalahgunaan.


Ketentuan yang berkaitan dengan penyelenggaraan kesejahteraan hewan diberlakukan bagi semua jenis hewan bertulang belakang dan sebagian dari hewan yang tidak bertulang belakang yang dapat merasa sakit.


Ketentuan lebih lanjut mengenai kesejahteraan hewan sebagaimana dimaksud pada Ayat (1), Ayat (2), dan Ayat (3) diatur dengan Peraturan Menteri.
Pasal 67 berbunyi: Penyelenggaraan kesejahteraan hewan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 66 Ayat (1) dan Ayat (2) dilaksanakan oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah bersama masyarakat.


Lebih lanjut, dalam penjelasan Pasal 66 Ayat (2) Undang-Undang tersebut, bawa yang dimaksud dengan ”penganiayaan” itu adalah tindakan untuk memperoleh kepuasan dan/atau keuntungan dari hewan dengan memperlakukan hewan di luar batas kemampuan biologis dan fisiologis hewan, misalnya penggelonggogan sapi. Yang dimaksud “penyalahgunaan” adalah tindakan untuk memperoleh kepuasan dan/atau keuntungan dari hewan dengan memperlakukan hewan secara tidak wajar dan/atau tidak sesuai dengan peruntukan atau kegunaan hewan tersebut.


Dalam Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2014 tentang perubahaan atas Undang-Undang Nomor 18 tahun 2009 tentang peternakan dan kesehatan hewan Pasal 66A Ayat (1) menyatakan setiap orang dilarang menganiaya dan/atau menyalahgunakan hewan yang mengakibatkan cacat dan/atau tidak produktif. 


Selain Undang-Undang tersebut diatas, terdapat Peraturan Pemerintah Nomor 95 Tahun 2012 tentang Kesehatan Masyarakat Veteriner dan Kesejahteraan Hewan menyatakan bahwa kesejahteraan hewan adalah segala urusan yang berhubungan dengan keadaan fisik dan mental hewan menurut ukuran perilaku alami hewan yang perlu diterapkan dan ditegakkan untuk melindungi hewan dari perlakuan setiap orang yang tidak layak terhadap hewan yang dimanfaatkan manusia.


Dari segi perundang-undangan, bisa dikatakan bahwa pada prinsipnya Indonesia merupakan negara yang ramah satwa. Dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2009, dalam Pasal 66 juga dijelaskan bahwa kelima prinsip kebebasan satwa menjadi pertimbangan penting dalam usaha peternakan dan kesehatan hewan. Dan dari Pasal 67 dapat kita simpulkan bahwa masyarakat turut memiliki tanggung jawab untuk bersama dengan pemerintah dalam upaya menegakkan ketentuan-ketentuan perihal kesejahteraan hewan. 


Partisipasi masyarakat ini tentu menjadi krusial karena saat ini penegakkan hukum di bidang kesejahteraan hewan masih sangat jauh dari memadai.
Walaupun terdapat banyak peraturan yang membahas tentang kesejahteraan hewan, tetap saja sering terjadi kekerasan pada hewan. 


Pemerintah harus bergerak untuk memberantas tindak kekerasan ini. Pemerintah tidak dapat bergerak sendiri tanpa ada dukungan dari masyarakat. 
Adapun beberapa hal-hal yang dapat dilakukan, Pertama, melakukan sosialisasi di lingkungan masyarakat, untuk memberikan pemahaman dan kesadaran akan pentingya kesejahteraan hewan, dengan melakukan komunikasi, penyampaian yang informatif dan edukatif. 


Pemerintah, mulai dari pemerintah daerah hingga pemerintah pusat, harus rutin melakukan sosialiasi dan pengarah tentang pentingnya kesejahteraan hewan. Hal ini penting dilakukan untuk menimbulkan rasa kepedulian manusia kepada hewan. 


Selain itu, juga memberikan ilmu bahwa, jika hewan diperlakukan dengan tidak semestinya, hal tersebut dapat mempengaruhi kualitas daging hewan tersebut (khusus untuk hewan ternak); Kedua, peningkatan kualitas sumber daya manusia di bidang veteriner. Hal tersebut harus dilakukan agar kita memiliki kualitas petugas di bidang veteriner yang baik. Hal ini akan mendorong masyarakat untuk percaya kepada petugas di bidang veteriner untuk menangani hewan-hewan mereka. 


Jika kualitas sumber daya manusia di bidang veteriner tidak baik, maka masyarakat tidak akan mau mempercayakan kesehatan hewannya kepada petugas veteriner, seperti dokter hewan; Ketiga, pemerintah harus melakukan pengawasan yang ketat, dimana pengawasan ini dilakukan kepada berbagai jenis hewan, mulai dari hewan kesayangan, hewan ternak, hingga hewan-hewan liar dan hewan-hewan yang dilindungi.


Pengawasan harus terus dilakukan agar tidak terjadi lagi kekerasan dan penyelewengan dalam penanganan hewan-hewan; Keempat, melakukan penagakkan hukum yang tegas. Pemerintah harus meneggakkan hukum kepada siapapun yang melakukan pelanggaran, tanpa peduli siapa pelakunya, baik itu peternak, masyarakat, bahkan anggota pemerintahan sekalipun; Kelima, melakukan reformasi hukum. Hal ini perlu dilakukan karena hukum-hukum yang terkait kesejahteraan hewan dirasa masih belum maksimal. 


Hukuman-hukuman yang diberikan pada para pelaku kekerasan kepada hewan masih terlalu ringan, dan masih memihak kepada pelaku. Perlu dilakukan reformasi hukum untuk memberi efek jera terhadap pelaku penganiayan dan kekerasan terhadap hewan.
Terkadang, masyarakat Indonesia masih mengaggap remeh ketika melihat seseorang menendang kucing atau anjing liar di jalan. Padahal, tindakan sekecil itu bisa mendapat pidana, sesuai dengan undang-undang yang sudah dijelaskan di atas. 


Namun, ketika kita melihat ke negara lain yang pola pikirnya tentang kesejahteraan hewan lebih maju, mereka sangat menghargai hewan. Bahkan, mereka menjadikan hewan peliharaan atau hewan kesayangan sebagai bagian dari keluarganya. 


Oleh karena itu, semua lapisan masyarakat, harus ikut serta dalam penegakkan kesejahteraan hewan. Kita mulai dari hewan peliharaan atau hewan kesayangan kita di rumah, dengan memperhatikan kecukupan makan dan minumnya, tempat tinggalnya, dan pemeliharaan kesehatannya. 


Mahasiswa fakultas kedokteran hewan juga bisa menjadi salah-satu unsur masyarakat yang dapat menjadi motivator  untuk meningkatkan kesejahteraan hewan. Mereka dapat melakukan berbagai macam kegiatan untuk mendukung kesejahteran hewan, sebagai contoh memberikan edukasi kepada masyarakat, dan melakukan penggalangan dana untuk menyelamatkan hewan-hewan terlantar.


Begitu banyak hal yang bisa kita lakukan untuk melindungi hewan-hewan yang ada di sekitar kita. Namun, hal tersebut tidak akan pernah terlaksana jika kita tidak memiliki kesadaran akan hal tersebut. 


"Ayo kita mulai lakukan perubahan. Sayangi dan pedulilah pada hewan-hewan di sekitar kita. Bawa perubahan, agar terciptanya kesejahteraan hewan, yang kemudian juga akan membawa kesejahteraan bagi manusia.

Penulis : Yonna Rezki Putri
NIM : 061911133102
Mahasiswa Kedokteran Hewan Universitas Airlangga

Komentar Via Facebook :